Jumat, 28 Februari 2014

Untuk ayah

Ayah, ayah, ayah.. Ayah aku tak tau harus memulai tulisan ini dari mana.. Tapi aku tetap ingin melanjutkannya.. Aku bukanlah anak yang selalu dekat dengamu, bercanda, atau sekedar dimarahi karena pulang kemaleman.

Ayah iri hati ini melihat teman2 yg bisa dekat dengan ayahnya..

Meski sosok ayah dimata mereka yang dingin, over-protective, dan perhatian tersembunyi. Aku juga mau merasakan hal seperti itu ayah..

Ayah aku tau kau bukanlah super daddy yang selalu memenuhi kebutuhan putrinya, bahkan bukan ayah yg menagkahi dan menyekolakanku.

Tapi ayah kau tau meski tak banyak kenangan yang pernah kita lalui, meski tidak tinggal serumah, meski kira berpisah jauh, aku tetap menyayangimu..

Ayah aku selalu dengar dari tetangga dekat rumah tentang ayah, aku senang semua komentarnya bagus2, aku senang mereka selalu bilang aku mirip denganmu, aku senang alasan ibu menceraikanmu bukan karna kau pria yang brengsek, bukan karena KDRT atau perselingkuhan yang hanya membuatku semakin gancur dan terpuruk. Ayah meski kita berpisah jauh sangat jauh, percayalah.. Sejauh apapun itu selalu ada jalan untuk kita bisa bersama.. Ada alasan kenapa darah lebih kental dari pada air..



Malam itu ku tuliskan lagi sepenggal kata rindu untu ayah yang jauh di dunia antah beranta.. Semburat cairan hangat mengalir lembut dikedua pipi gemukku yang terus mengalir dan mulai membasahi setengah wajahku, hatiku terasa sesak seperti ada ember dan botol besar milik rokudo sannin untuk menyegel juubi didadaku. Rasanya ingin kumuntahkan semua bebab yang bergejolak dan rasa rindu yang terus menekan dan penuh didalam perut menjadi tulisan-tulisan yang entah akan tersampaikan atau tidak..

Semoga saja tersampaikan.. Aku merindukanmu ayahku.



Salam sayang. Anakmu